Edukasi

Perlukah menambahkan mata pelajaran di Sekolah Dasar?

Avatar Written by In Initia Iqbal
· 1 min read >

 

Dalam merancang kurikulum, pastinya harus merunut ke Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional. Perancangan kurikulum tersebut dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang, tujuan pendidikan nasional adalah:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Nah, sudah jelas bahwa Sistem Pendidikan Indonesia itu lebih mengarah kepada nilai sosial yang menginginkan peserta didik untuk menjadi insan bertakwa kepada Tuhan, cerdas, kreatif, dan demokratis.

Bukannya tidak mungkin mencetak generasi bangsa yang ideal seperti ini, hanya sulit dan butuh waktu lama dalam merealisasikannya.

Karena pertanyaan yang diajukan mengenai kurikulum sekolah dasar, jika saya perancang kurikulum tersebut, mungkin saya belum akan menambahkan mata pelajaran apa pun. Melainkan fokus kepada penanaman nilai kesadaran dan pemikiran kritikal kepada peserta didiknya.

Kenapa?

Pendidikan dasar di Sekolah Dasar itu merupakan wadah proses belajar fundamental, dimana konten yang diajarkan harus dikuasai secara dalam dan mengakar. Disinilah dosa-dosa masalah pendidikan bermula. Terlalu fokus pada konten yang berlebihan, tetapi lupa menanamkan mental bahwa Sains dan Matematika itu bisa dipelajari melalui proses berkelanjutan dan harus tuntas, sampai substansi mata pelajaran tersebut benar-benar dikuasai oleh siswa. Jangan sampai siswa beranggapan bahwa Sains dan Matematika itu hanya bisa dikuasai oleh orang yang punya “bakat” IPA.

Caranya bagaimana?

Saya pikir, Indonesia sangat butuh orang-orang cerdas yang bisa menginterpretasikan Sains dan Matematika. Mereka yang bisa dengan passionate menjelaskan teori-teori tersebut tanpa membuat si peserta didik itu merasa bodoh dan menjadi tidak termotivasi. Ada guru yang cerdas, tapi sulit menyampaikan pelajaran tersebut kepada siswanya.

Selanjutnya, agar pendidikan kita tidak terkesan terlalu pragmatis hingga menjadi “banking education” (meminjam istilah Paulo Freire) dan ujungnya hanya ikut-ikutan profesi orang lain, kesadaran kritikal sangat perlu diberikan dari tingkat dasar ini. Hal ini berfungsi mengenali hubungan antara peninjauan masalah siswa dengan pengalaman dan Konteks Sosial di mana mereka berada.

Sejalan dengan Paulo Freire, Ki Hajar Dewantara juga berpendapat bahwa pendidikan itu harus memanusiakan manusia. Artinya, pendidikan itu melebihi apa yang ada di dalam rapor dan ujian semata. Harus mempunyai nilai kesadaran akan diri sendiri dan lingkungan sekitar, termasuk dengan masalah-masalahnya.

Sedangkan untuk mata pelajaran yang dihapuskan, sejauh ini tidak ada. Jika ada, hal tersebut bisa menjadi pertentangan.

Kesimpulannya, pemikiran dan kesadaran kritis di setiap mata pelajaran harus diajarkan oleh pendidik. Agar pendidikan itu mampu menyadarkan manusia akan perannya masing-masing (yang pasti berbeda) sehingga memberikan nilai dan manfaat sebesar-besarnya bagi sekitar.

Written by In Initia Iqbal
Pembelajar yang kadang mengajar. Mencintai diskusi tentang buku, pendidikan, sosial, bisnis, jalan-jalan dan kuliner. Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *