Edukasi

Tokoh Indonesia Yang Mempunyai Pandangan Jauh Ke Depan

Avatar Written by In Initia Iqbal
· 1 min read >

Sang revolusioner yang kesepian, Tan Malaka. Namanya kerap absen di buku-buku sejarah sekolah karena dianggap radikal dan pemberontak garis ‘kiri’. Tidak pernah menikah, tidak mempunyai jabatan atau kekuasaan strategis dan struktural pasca kemerdekaan seperti teman-temannya Bung Hatta, Moh. Yamin dan Sjahrir.

Sejujurnya, ada beberapa hal yang tidak saya sukai dari Tan Malaka. Namun saya juga harus mengakui bahwa dialah yang menginspirasi gerakan perlawanan terhadap penjajah dan menciptakan nama Republik Indonesia di tahun 1925 melalui bukunya Naar de Republiek Indonesia yang ditulis dengan Bahasa Belanda, jauh sebelum founding fathers memikirkan nama tersebut.

Lahir dari kalangan bangsawan dan cukup berada, membuat Tan Malaka bisa menempuh pendidikan di sekolah guru negara Kweekschool, pada tahun 1908  di Fort de Kock (Bukittinggi). Berkat kecerdasan dan guru Belanda-nya, Horensma, Tan Malaka melanjutkan sekolah hingga ke Belanda di usia 17 tahun. Selanjutnya mengapa Patjar Merah disebut tokoh yang visioner karena keinginannya dalam menempuh pendidikan di luar negeri mendahului teman-temannya Hatta, Nazir Datuk Pamuncak, Sjahrir, Abdul Muis, Abdul Rivai dan Asaat. Di saat dia tidak mempunyai uang, keluarga besar berpatungan untuk membiayai Angkoefonds, namun akhirnya dana tetap dikembalikan oleh Tan, karena dia menganggap itu adalah hutang yang harus dibayar lunas.

Sayangnya, Tan Malaka harus mati tertembak peluru bangsa sendiri di Kediri. Seruan kebencian dan ancaman datang dari segala arah dari Musso, hingga Soekarno. Bahkan Sjahrir dianggap Yudas oleh Tan Malaka karena menusuk dari belakang. Dikutip dalam jurnal Indonesia, April 1992 (A.B Lubis), Sjahrir bahkan berkata:

 “Jika Tan Malaka bisa menunjukkan lima persen saja dari pengaruh Soekarno di kalangan rakyat, Sjahrir ikut bersekutu”.

Ada banyak pelajaran yang saya temui setelah membaca biografi Tan Malaka. Tentang kesepian, terbuang, perlawanan dan tidak dihargai. Satu hal yang saya sadari, niat baik memang tidak selalu berbuah baik.

 

 

Written by In Initia Iqbal
Pembelajar yang kadang mengajar. Mencintai diskusi tentang buku, pendidikan, sosial, bisnis, jalan-jalan dan kuliner. Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *